Ketika Doa Mengambil Wujud Makanan: Lima Sajian Sakral Bulan Suro

Prolog: Sebuah Malam yang Berjalan Pelan

Ada satu malam dalam setahun ketika orang Jawa memilih untuk tidak berteriak, tidak merayakan dengan petasan, tidak membunyikan klakson. Mereka memilih untuk berjalan, jika di Surakarta atau Yogyakarta, harfiah berjalan kaki mengelilingi keraton dalam sunyi. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak. Hanya langkah dan napas.

Malam itu adalah malam 1 Suro.

Bagi yang belum pernah merasakannya, ini mungkin terdengar seperti tradisi yang aneh, bahkan kelam. Padahal sebenarnya malam itu adalah salah satu undangan paling jujur yang pernah diberikan sebuah kebudayaan kepada manusia: berhenti sejenak, dan lihat ke dalam diri.

Ketika Doa Mengambil Wujud Makanan: Lima Sajian Sakral Bulan Suro
gbr ilustrasi. dibuat dengan Gemini

Suro: Ketika Dua Dunia Memilih untuk Berdamai

Untuk memahami mengapa bulan Suro begitu kaya dalam tradisi, kita perlu mundur ke tahun 1633 Masehi. Saat itu, Raja Mataram Islam yang bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo menghadapi sebuah persoalan yang tidak kecil.

Rakyatnya hidup di bawah dua kalender yang berbeda. Masyarakat pesisir utara, yang kerap berinteraksi dengan pedagang Muslim, telah menggunakan kalender Hijriah. Sementara masyarakat pedalaman masih berpegang pada kalender Saka, warisan peradaban Hindu-Buddha yang telah berakar selama berabad-abad. Perbedaan ini menimbulkan ketidakselarasan dalam ritual keagamaan, sekaligus kekacauan dalam musim tanam.

Sultan Agung tidak mencabut salah satu. Ia melakukan sesuatu yang lebih bijaksana: ia menyatukannya.

Pada Jumat Legi, 8 Juli 1633 Masehi, yang bertepatan dengan 1 Muharram 1043 H, Sultan Agung meresmikan kalender Jawa-Islam. Bukan sekadar urusan administrasi waktu, ini adalah strategi budaya untuk menyatukan dua kelompok besar masyarakat: santri dan abangan. Sistem perhitungan bulan mengikuti kalender Hijriah, tetapi angka tahun tetap diteruskan dari kalender Saka.

Nama bulan pun dibahasajawakan. Muharam berubah menjadi Suro, diambil dari kata "Asyura" dalam bahasa Arab, yang merujuk pada hari ke-10 bulan Muharam, hari yang dimuliakan dalam tradisi Islam.

Dari situlah bulan Suro lahir. Bukan sebagai bulan mistis yang menakutkan, melainkan sebagai pertemuan dua peradaban yang memilih harmoni daripada konflik.

Masih Relevankah Suro di Tahun 2026?

Pertanyaan ini sah dan perlu dijawab jujur.

Di satu sisi, banyak yang sudah meninggalkan ritual Suro, menganggapnya terlalu klenik, terlalu kuno, atau tidak sesuai dengan gaya hidup urban yang serba terburu. Di sisi lain, ada yang mempertahankannya secara ekstrem, sampai-sampai mitos "pantangan menikah di bulan Suro" masih dipegang tanpa banyak mempertanyakan asal-usulnya.

Keduanya, menurut hemat saya, melewatkan intinya.

Tradisi Suro tidak pernah dimaksudkan sebagai pesta. Ia lebih menekankan ketenangan, tafakur, dan keseimbangan hidup. Justru di sinilah relevansinya terasa mendesak hari ini, ketika notifikasi tidak pernah berhenti berdenting, ketika hidup terasa seperti perlombaan yang hadiahnya tidak jelas.

Suro adalah ajakan untuk berhenti, bukan karena kita takut pada bulan ini, melainkan karena kita perlu belajar lagi bagaimana caranya diam.

Dan leluhur kita, dengan kecerdasan yang sering kita remehkan, menyematkan ajakan itu ke dalam sesuatu yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan.

Lima Kuliner Sakral Suro

1. Nasi Tumpeng, Doa yang Berbentuk Gunung

Nasi Tumpeng - Resep Mudah
Ilustrasi tumpeng nasi kuning./Copyright pexels.com/@2155578160/

Sebelum berbicara soal rasanya, perlu kita dudukkan dulu: tumpeng bukanlah sekadar "nasi kuning yang ditumpuk kerucut." Ia adalah sebuah pernyataan kosmologi.

Secara etimologi, tumpeng dipahami sebagai kependekan dari frasa "tumapaking penguripan, tumindak lempeng tumuju Pangeran", yang berarti manusia harus menjalani kehidupan di jalan yang lurus menuju Tuhan.

Bentuk kerucutnya bukan kebetulan. Dalam Kitab Tantupanggelaran dari zaman Majapahit, dikisahkan bahwa Pulau Jawa pernah berguncang hebat. Batara Guru memerintahkan agar puncak Mahameru dari India dibawa untuk menstabilkan pulau ini, dan jadilah Gunung Semeru. Dari sanalah konsep ketuhanan selalu diasosiasikan dengan sesuatu yang tinggi, yang berada di puncak.

Bentuk kerucut tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan di atas, sementara hamparan lauk-pauk yang mengelilinginya melambangkan hubungan horizontal antar manusia. Jadi, tumpeng sesungguhnya adalah miniatur filosofi kehidupan, spiritual dan sosial yang saling terhubung.

Ketika seseorang memotong puncak tumpeng dan memberikannya kepada yang paling dihormati di meja makan, itu bukan sekadar basa-basi. Itu adalah cara Jawa mengatakan: yang tertinggi adalah milik Yang Maha Tinggi, dan dari sana kita berbagi ke sesama.

Resep Nasi Tumpeng Kuning Rumahan (untuk 6–8 orang)

Bahan:
  • 600 gram beras (cuci bersih)
  • 400 ml santan kental dari 1 butir kelapa
  • 600 ml air
  • 2 batang serai, memarkan
  • 3 lembar daun salam
  • 2 lembar daun pandan
  • 1 sendok teh kunyit bubuk (atau 3 cm kunyit segar, haluskan)
  • 1,5 sendok teh garam

Cara membuat:

  1. Rebus santan bersama air, serai, daun salam, daun pandan, kunyit, dan garam hingga mendidih perlahan. Aduk agar santan tidak pecah.
  2. Masukkan beras, masak dengan api sedang sambil terus diaduk hingga air terserap dan nasi setengah matang (sekitar 15–20 menit).
  3. Pindahkan ke dandang yang sudah dipanaskan, kukus selama 25–30 menit hingga matang sempurna.
  4. Cetak dalam cetakan tumpeng atau gunakan mangkuk besar yang dioleskan minyak, padatkan, lalu balik di atas tampah yang telah dilapisi daun pisang.
  5. Susun lauk di sekeliling tumpeng: tempe orek, sambal goreng kentang, telur rebus, urap sayur, dan ayam goreng atau ingkung (lihat bagian berikutnya).

2. Apem, Kue Kecil yang Membawa Pengakuan Dosa

Apem, Kue Kecil yang Membawa Pengakuan Dosa
ilustrasi apem/pexels.com/@2160651160/

Di antara semua makanan Suro, apem adalah yang paling rendah hati. Ukurannya tidak besar. Warnanya tidak mencolok. Teksturnya berongga, seperti sesuatu yang sengaja dibiarkan tidak padat, tidak sempurna.

Dan mungkin memang itulah maksudnya.

Secara etimologis, kata "apem" diyakini berasal dari istilah Arab afwun atau afuwwun, yang berarti "maaf" atau "ampunan." Pengaruh ini masuk ke Nusantara bersamaan dengan penyebaran Islam pada abad ke-15, dibawa oleh para ulama dan wali yang menggunakan pendekatan budaya dan kuliner untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya saling memaafkan.

Masyarakat Jawa yang kesulitan mengucap kata affuan kemudian menyederhanakannya menjadi "apem." Dalam filosofi Jawa, kue ini pun menjadi simbol pengampunan, permohonan ampun dari berbagai kesalahan.

Ada kisah yang beredar di Klaten tentang Ki Ageng Gribig, murid Sunan Kalijaga, yang pulang dari tanah suci dan membagikan kue ini kepada penduduk yang kelaparan sambil mengajak mereka berdzikir. Terlepas dari kadar historisnya yang bisa diperdebatkan, kisah itu mengandung inti yang indah: makanan yang paling bermakna adalah yang dibagikan, bukan yang disimpan.

Tekstur apem yang lengket pun dimaknai tersendiri, sebagai eratnya tali silaturahmi yang dijaga melalui permohonan maaf dan saling memaafkan.

Resep Apem Kukus Rumahan (untuk sekitar 20 buah)

Bahan:
  • 250 gram tepung beras
  • 100 gram tape singkong, haluskan
  • 200 ml santan hangat
  • 150 ml air hangat
  • 1 sendok teh ragi instan
  • 3 sendok makan gula pasir
  • ½ sendok teh garam
  • ½ sendok teh vanili

Cara membuat:

  1. Campurkan ragi, 1 sendok makan gula, dan air hangat. Diamkan 10 menit hingga berbuih.
  2. Dalam wadah terpisah, campur tepung beras, sisa gula, garam, dan vanili. Masukkan tape singkong yang sudah dihaluskan.
  3. Tuang campuran ragi dan santan hangat ke dalam adonan tepung. Aduk rata hingga tidak ada gumpalan.
  4. Tutup adonan dengan kain bersih, diamkan di tempat hangat selama 45–60 menit hingga mengembang dan muncul busa kecil di permukaan.
  5. Siapkan cetakan apem (bisa gunakan cetakan pukis atau loyang muffin kecil yang diolesi minyak tipis). Tuang adonan ¾ penuh.
  6. Kukus dengan api sedang selama 12–15 menit. Jangan membuka tutup kukusan sebelum waktu selesai.
Catatan: Apem yang baik memiliki permukaan yang "mekar" dan sedikit mengembang ke atas, dengan tekstur berongga dan ringan, bukan padat seperti kue kukus biasa.

3. Bubur Suro, Doa yang Dikumpulkan dari Sisa-sisa

Bubur Suro, Doa yang Dikumpulkan dari Sisa-sisa
Resep Bubur Suro untuk Menyambut Tahun Baru Islam./Copyright shutterstock.com/id/g/Maharani+afifah

Ada sebuah kisah yang beredar luas di kalangan masyarakat Muslim Jawa, bahwa tradisi membuat bubur di bulan Muharram berakar dari peristiwa berakhirnya bahtera Nabi Nuh. Para pengikutnya mengumpulkan sisa-sisa bahan makanan yang tersedia, lalu memasaknya bersama sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang mereka terima. Dari situlah berkembang tradisi berbagi makanan pada bulan Muharram.

Suka atau tidak pada kisah itu, filosofi di baliknya indah: dari yang tersisa, kita masih bisa memasak. Dari yang kurang, kita masih bisa bersyukur.

Bubur Suro khas Jawa biasanya dihiasi aneka topping bermakna: tujuh jenis kacang, mulai dari kacang tanah, kacang hijau, kacang mede, kedelai, tholo, kacang merah, hingga kacang Bogor, yang melambangkan tujuh hari dalam sepekan, sebagai pengingat agar manusia bersyukur setiap hari, bukan hanya saat momen besar.

Di berbagai daerah Jawa, bubur suro juga dilengkapi telur rebus, sambal goreng, urap sayur, serundeng, dan ayam suwir, kesemuanya melambangkan rasa syukur dan harapan akan kelimpahan.

Resep Bubur Suro Jawa (untuk 6–8 orang)

Bahan bubur:
  • 300 gram beras, cuci bersih
  • 2 liter air
  • 200 ml santan kental
  • 2 batang serai, memarkan
  • 3 lembar daun salam
  • 2 cm jahe, memarkan
  • 1,5 sendok teh garam
Topping (pilih 7 jenis kacang):
  • 3 sendok makan kacang tanah goreng
  • 3 sendok makan kacang hijau, rebus hingga empuk
  • 2 sendok makan kacang mede goreng
  • 3 sendok makan kedelai goreng
  • 2 sendok makan kacang merah, rebus hingga empuk
  • 2 sendok makan kacang tholo (kacang tolo), rebus
  • 2 sendok makan kacang Bogor rebus
Cara membuat:
  1. Masak beras bersama air, serai, daun salam, dan jahe dengan api sedang hingga nasi pecah dan menjadi bubur, sekitar 45 menit. Aduk sesekali agar tidak lengket di dasar panci.
  2. Tuangkan santan, tambahkan garam, masak lagi 10–15 menit dengan api kecil hingga bubur mengental dan creamy.
  3. Angkat daun salam dan serai. Sajikan bubur dalam mangkuk, taburi aneka kacang di atasnya.
  4. Lengkapi dengan telur rebus yang dibelah, bawang goreng, dan taburan irisan daun bawang.

4. Ayam Ingkung, Tubuh yang Merendah, Jiwa yang Memohon

Ayam Ingkung, Tubuh yang Merendah, Jiwa yang Memohon
ilustrasi ayam ingkung/copyright Shutterstock

Jika ada satu sajian dalam meja Suro yang paling kuat secara visual sekaligus filosofis, itu adalah ingkung.

Bayangkan: seekor ayam kampung jantan, dimasak utuh tanpa dipotong-potong, terikat di bagian sayap dan kakinya, disajikan dalam posisi seperti sedang tunduk, seperti seseorang yang sedang bersujud.

Bukan kebetulan.

Kata "ingkung" berasal dari kata Jawa kuno jinakung, yang berarti mengayomi, dan manekung, yang berarti memanjatkan doa. Pemilihan ayam sebagai bahan utama pun melambangkan manusia itu sendiri, dan posisi bersungkur itu mencerminkan kerendahan hati dan doa kepada Sang Pencipta.

Ayam jago atau jantan yang dimasak utuh dalam kuah santan dan kunyit merupakan simbol menyembah Tuhan dengan khusyuk, manekung, dengan hati yang tenang dan wening (jernih).

Ada pula makna lain yang lebih manusiawi: manusia diharapkan bisa berperilaku seperti ayam, karena seekor ayam jika diberi makan tidak langsung memakannya, melainkan memilih terlebih dahulu mana yang baik dan mana yang tidak. Begitulah manusia seharusnya: mampu memilah, bukan sekadar menelan apa pun yang datang.

Resep Ayam Ingkung (untuk 4–6 orang)

Bahan:
  • 1 ekor ayam kampung (sekitar 1–1,2 kg), utuh, bersihkan
  • 600 ml santan kental dari 1 kelapa
  • 400 ml air
Bumbu halus:
  • 8 siung bawang merah
  • 5 siung bawang putih
  • 4 cm kunyit, bakar sebentar
  • 3 cm lengkuas
  • 2 cm jahe
  • 3 kemiri, sangrai
  • 1 sendok teh ketumbar, sangrai
  • ½ sendok teh merica butiran
  • 1 sendok teh garam
  • 1 sendok makan gula merah sisir
Bumbu tambahan:
  • 2 batang serai, memarkan
  • 4 lembar daun salam
  • 3 lembar daun jeruk

Cara membuat:

  1. Ikat ayam: lipat kedua sayap ke belakang punggung dan ikat dengan tali bambu atau benang kasur. Lipat pula kaki ke depan dan ikat agar posisi ayam "bersimpuh."
  2. Tumis bumbu halus bersama serai, daun salam, dan daun jeruk hingga harum dan matang, sekitar 8 menit.
  3. Masukkan ayam utuh, aduk agar bumbu melapisi seluruh permukaan.
  4. Tuang air, masak dengan tutup selama 20 menit dengan api sedang.
  5. Tuang santan kental, kecilkan api, masak lagi 30–40 menit hingga bumbu meresap dan kuah mengental. Sesekali siram bagian atas ayam dengan kuahnya.
  6. Angkat dan sajikan utuh bersama kuahnya yang kental dan harum.
Catatan: Gunakan ayam kampung betul-betul, karena daging ayam broiler akan terlalu lunak dan mudah hancur saat dimasak utuh selama ini.

5. Bubur Merah Putih, Dua Asal, Satu Jiwa

Bubur Merah Putih, Dua Asal, Satu Jiwa
Ilustrasi bubur merah putih./Copyright shutterstock.com/g/Sherliana%2BJuliani

Di antara semua sajian Suro, bubur merah putih adalah yang paling puitis dalam menanggung makna.

Jenang abang putih, demikian ia disebut dalam bahasa Jawa, melambangkan asal-usul manusia. Jenang putih adalah perlambang bibit dari ayah; jenang abang adalah perlambang bibit dari ibu. Saat keduanya disandingkan dalam satu wadah, ada simbol yang sederhana namun menggetarkan: dari dua yang bertemu, muncul satu kehidupan baru.

Warna merah dan putih juga bermakna keberanian dan kesucian. Saat disajikan dalam acara kelahiran, bubur ini menjadi harapan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang berani sekaligus selalu berada di jalan yang benar.

Dalam konteks Suro, pemaknaan ini menjadi lebih luas. Bubur merah putih hadir bukan hanya untuk merayakan kelahiran seseorang, melainkan untuk merayakan bahwa kita, yang telah melewati satu putaran tahun lagi, masih hidup. Masih bernafas. Masih diberi kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Saat disatukan dalam satu wadah, ada simbol penyatuan dan hadirnya manusia baru, menjadikan bubur merah putih sebagai lambang kehidupan manusia di dunia.

Resep Bubur Merah Putih / Jenang Abang Putih (untuk 8 porsi)

Bahan bubur putih:
  • 200 gram beras ketan putih
  • 400 ml santan kental
  • 300 ml air
  • 1 sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan
Bahan bubur merah:
  • 200 gram beras ketan putih
  • 400 ml santan kental
  • 300 ml air
  • 150 gram gula merah (gula aren), sisir halus
  • ½ sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan
Kuah santan pelengkap:
  • 200 ml santan kental
  • ½ sendok teh garam
  • 1 lembar daun pandan, rebus sebentar hingga mendidih
Cara membuat bubur putih:
  1. Rendam beras ketan 2–3 jam, tiriskan.
  2. Masak beras ketan bersama air, daun pandan, dan garam di atas api sedang sambil terus diaduk agar tidak gosong.
  3. Setelah air terserap setengah, masukkan santan kental, kecilkan api, aduk terus hingga mengental dan ketan matang sempurna (sekitar 25–30 menit total). Sisihkan.

Cara membuat bubur merah:

  1. Sama dengan bubur putih, hanya tambahkan gula merah bersama santan. Aduk hingga warna merata dan gula larut sepenuhnya.
Penyajian:
  • Tuang bubur merah ke dalam piring atau mangkuk lebar terlebih dahulu, lalu letakkan sedikit bubur putih di bagian atas atau di sisinya.
  • Siram dengan kuah santan tipis sebelum disajikan.
  • Tradisionalnya: bubur merah di bawah, bubur putih di atas, melambangkan bibit ayah yang menaungi.

Epilog: Makanan Sebagai Bahasa Doa

Orang Jawa tidak pernah sekadar makan. Mereka meletakkan harapan di dalam bumbu, menyematkan doa di dalam bentuk, dan menitipkan ingatan di dalam rasa. Kelima sajian yang kita bicarakan tadi bukan sekadar resep, mereka adalah dokumen sejarah yang bisa dimakan, percakapan lintas generasi yang berlangsung lewat aroma dan tekstur.

Nasi tumpeng mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan vertikal menuju Yang Maha Kuasa, sekaligus horizontal bersama sesama. Apem mengajarkan bahwa memohon maaf bukan kelemahan, melainkan keberanian paling dasar yang bisa dimiliki manusia. Bubur Suro mengajarkan bahwa dari yang tersisa pun, kita masih bisa memberi. Ayam ingkung mengajarkan bahwa ada kalanya kita perlu menundukkan diri, benar-benar menunduk, agar kita ingat di hadapan siapa kita berdiri. Dan bubur merah putih mengingatkan kita bahwa sebelum menjadi siapa pun yang kita anggap hari ini, kita dulunya hanya pertemuan dua hal yang paling sederhana.

Di meja makan bulan Suro, leluhur kita tidak mewariskan ketakutan. Mereka mewariskan cara bersyukur yang penuh selera.

Mungkin sudah waktunya kita kembali duduk di meja itu.

Ditulis menjelang 1 Suro 1959 Jawa / 1447 H 

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dan berikan pendapat Anda tentang tulisan di atas.